RSS

PhysicsNow

Minggu, 20 Maret 2011 – Di bawah panasnya matahari yang bersinar di langit gelap pekat, sebuah rover beroda empat berjalan zig zag melintasi kawah di permukaan bulan. Ia sepertinya mencari sesuatu. Sesekali ia berhenti untuk meneliti tanah berdebu, sebelum bergerak lagi. Namun sebuah perhentian menjadi terasa lebih lama. Mendadak, sebuah antena memanjang ke angkasa, menunjuk ke planet biru gemuk 385 ribu km jauhnya. Manusia yang menjadi pengikut Twitter Feed milik Red Rover memperoleh beritanya dalam beberapa detik: “Kami telah menemukan air.”


35 tahun sudah perjalanan ke Bulan tidak dilakukan. Hal ini wajar karena dana yang dibutuhkan luar biasa besarnya. Misi Apollo yang membawa manusia ke bulan misalnya memerlukan dana 5.2 miliar dollar atau setara dengan 5.3 persen APBN Amerika Serikat. Di Uni Soviet, misi Luna juga sama mahalnya. Padahal kedua misi ini ditangani oleh para profesional.

Sekarang NASA melihat bahwa para pengusaha swasta dapat bekerja lebih efektif dengan dana yang jauh lebih murah. Sebagai contoh, perusahaan Scaled Composites pada tahun 2004 berhasil memperbaiki pesawat SpaceShipOne dengan dana hanya 25 juta dollar. Untuk pendaratan di Bulan, sekarang diduga biaya yang dibutuhkan hanya sekitar 60 juta dollar.

Yang diperlukan sekarang hanyalah sekelompok orang jenius dari berbagai belahan dunia. Google, perusahaan global di bidang teknologi informasi mengenali kemungkinan ini dan meluncurkan proyek GLXP (Google Lunar X Prize) berhadiah 10 juta dollar. Hadiah ini sebenarnya tidak sepadan dengan proyek penelitian dan pengembangan yang diperlukan peserta untuk benar-benar mendaratkan pesawatnya di Bulan, tapi hal tersebut tidak menghalangi 33 tim yang ikut serta ketika jendela pendaftaran di tutup akhir tahun 2010. Sekarang 29 tim benar-benar berkomitmen untuk bekerja membangun pendarat di Bulan.

Para robot peserta GLXP 

Para peserta juga berasal dari berbagai kalangan. Perusahaan Astrobotic ikut serta dengan membangun Red Rover. Mereka bekerja sama dengan dua lembaga, Universitas Carnegie Mellon di Pittsburg dan Raytheon, perusahaan kontraktor di Waltham. Ada juga FREDNET, sebuah kolaborasi antara para insinyur dan pemikir yang bekerja bebas di rumahnya tanpa kantor. Para veteran dari program Luna milik Uni Soviet dulu juga ikut serta dengan panju Selenokhod.

Untuk mendapatkan hadiah, para peserta harus mendaratkan robot rovernya di Bulan, mengendalikannya minimal 500 meter dari titik pendaratan dan mengirim video, gambar diam dan data ke komputer Google di Bumi. Selain itu, mereka juga harus memiliki metode inovatif dan terbukti untuk mendapatkan informasi berharga dan menguntungkan mengenai Bulan. Ada tambahan hadiah 4 juta dollar bagi tim yang berhasil pertama kali menemukan bukti keberadaan air di permukaan Bulan.

Keberadaan air di Bulan dipandang sangat berharga. Hal ini karena air bila dipecah menjadi molekul penyusunnya, oksigen dan hidrogen, menjadi sumber ideal bahan bakar roket. Dengan cara ini, pesawat dapat memperoleh bahan bakar langsung dari Bulan untuk menjelajahi Bulan itu sendiri, serta menyediakan pasokan untuk misi ke daerah lain seperti asteroid dan Mars. Diduga ada 600 juta meter kubik air di kutub bulan, cukup untuk menjadi bahan bakar bagi 300 ribu misi pesawat antariksa.

Poster GLXP 

Pekerjaannya para peserta sangat banyak. Pertama, mereka harus menentukan dimana mereka harus mendaratkan rover mereka. Sebagian besar peserta memilih lokasi di sekitar kutub, karena diduga disana terdapat air dan keberadaan air merupakan informasi yang sangat berharga. Selanjutnya, mereka juga harus memikirkan bagaimana cara pendaratan. Permukaan bulan keras dan kesalahan sedikit dapat berakibat hancurnya rover yang telah mereka buat dengan susah payah. Tim C-Base Open Moon yang tersusun dari para hacker Jerman mencoba pendaratan keras dengan menggunakan kantung udara yang di inspirasi oleh pendaratan rover Mars, Spirit dan Opportunity, yang berhasil. Tim lain memilih pendaratan lembut dengan mesin pendorong berdenyut yang seperti bola basket, memantul-mantul di atas Bulan sejauh 5 km sebelum berhenti. Tim lainnya memakai  bantalan penyerap impact sekali pakai berbentuk kamar lebah.

Pekerjaan ketiga adalah bagaimana perjalanannya di Bulan. Masing-masing tim mengajukan teknologinya sendiri. Ada yang memakai desain beroda empat dengan badan piramid yang diselubungi sel surya, berpuncak pada sensor kamera. C-Base Open Moon menggunakan rover mirip artileri abad ke-18. Talaris menggunakan pendorong berdenyut yang telah disebutkan di atas.

Logo GLXP 

Pekerjaan terakhir adalah memutuskan bagaimana meluncurkan sang robot. Tentu para peserta tidak akan mampu membuat lapangan peluncuran dan roketnya sendiri. Untungnya ada beberapa operator peluncuran yang siap mendorong mereka. Ada NASA, ESA, Roscosmos (NASA nya Rusia) dan perusahaan swasta SpaceX yang mencatat kesuksesan dengan roket Falcon 9. Biaya peluncuran setidaknya 10 ribu dollar per kilogram dan peluncuran rover bisa memakan dana jutaan dollar, jadi peluncuran saja sudah cukup untuk membangkrutkan separuh tim.

Beberapa pihak tentunya ikut menyumbang dana dengan menuntut berbagai hak untuk temuan tiap tim, seperti halnya sponsor dalam balap mobil. NASA, ESA dan Roscosmos mempertimbangkan untuk menggratiskan biaya peluncuran. Pemerintah Florida bahkan menambah uang hadiah 2 juta USD bila robot yang diluncurkan dari wilayahnya berhasil menjadi juara. SpaceX mengatakan tidak akan mengambil untung bila peserta memilih menggunakan jasa mereka.

No Tim Rover Negara Kesiapan Dana Kemajuan Pekerjaan
1 Odyssey Moon MoonOne (M-1) Multinasional (pusat di Isle of Man) 40% 60%
2 Astrobotic Red Rover AS 100% 60%
3 Synergy Moon Tesla Robotic Rover Multinasional (pusat di AS) 40% 40%
4 Euroluna ROMIT Denmark, Italia, Swiss 20% 60%
5 Selene Selena 1 / LuRoCa 1 China, Jerman 20% 60%
6 Team Italia AMALIA Italia 20% 2%
7 Next Giant Leap Talaris AS 80% 80%
8 FREDNET Masih dikaji Multinasional 40% 40%
9 White Label Space Masih dikaji Multinasional (pusat di Belanda) 40% 40%
10 Part Time Scientists Asimov-1 Jerman 40% 40%
11 C-Base Open Moon C-Rove Jerman 20% 20%
12 Arca ELE Romania 40% 80%
13 Moon Express MoonEx-1 AS 60% 40%
14 Stellar Stellar Eagle AS 20% 20%
15 Selenokhod Selenokhod Rusia 20% 20%
16 Barcelona Moon Team Masih dikaji Spanyol 20% 20%
17 Rocket City Space Pioneers Masih dikaji AS 60% 80%
18 Jurban JOHLT AS 20% 20%
19 Independence-X ILR-1 Malaysia 20% 1%
20 Omega Envoy Sagan AS 40% 40%
21 Team Space IL Sparrow Israel 20% 1%
22 Mystical Moon Black Magic AS Baru Baru
23 Team Puli Masih dikaji Hungaria Baru Baru
24 Team Spacemeta Masih dikaji Brasil Baru Baru
25 Team Plan B Masih dikaji Kanada Baru Baru
26 Penn State Lunar Lion Team The Lunar Lion AS Baru Baru
27 Angelicum Chile Masih dikaji Chili Baru Baru
28 Team Indus Masih dikaji India Baru Baru
29 Team Phoenicia Storming the High Heavens AS Baru Baru

Disarikan dari :

Greg Klerkx. Back to the Moon. New Scientist, 5 March 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: