RSS

Potret Bintang yang di Zoom mempertanyakan teori astronomi lama

29 Apr

Minggu, 24 April 2011 – Bintang-bintang terpanas di alam semesta berputar begitu cepat sehingga mereka sedikit menggepeng di kutubnya dan lebih redup di tengahnya. Teori berusia 90 tahun yang meramalkan keluasan fenomena penggelapan gravitasi ini pun dipertanyakan kembali oleh studi yang dipimpin para astronom Universitas Michigan.

Hukum von Zeipel, dinamakan berdasarkan sang penciptanya, astronom Swedia, Edvard Hugo von Zeipel, telah digunakan selama abad kemarin untuk meramalkan perbedaan suhu, kecemerlangan dan gravitasi permukaan antara kutub dan khatulistiwa bintang yang berputar cepat.

Dengan menggunakan teknik yang disebut interferometri, para peneliti pada dasarnya melakukan zoom-in untuk mengambil gambar dan pengukuran close up bintang Regulus. Ia adalah bintang terterang di rasi Leo dan bila ia berputar hanya beberapa persen lebih cepat dari sekarang, ia akan terpecah.

Para astronom menemukan kalau perbedaan aktual suhu antara khatulistiwa dan kutubnya jauh lebih kecil daripada yang diramalkan teori.

“Penyesuaian model kami pada data interferometri menunjukkan kalau walaupun hukum ini benar dalam menjelaskan trend variasi suhu permukaan, ia menyimpang secara kuantitatif,” kata Xiao Che, mahasiswa doktoral Jurusan Astronomi yang merupakan penulis perdana makalah mengenai penemuan ini yang diterbitkan tanggal 20 April 2011 dalam Astrophysical Journal.

“Mengejutkan kalau ternyata hukum von Zeipel telah diadopsi astronomi begitu lama padahal bukti pengamatannya yang kokoh begitu kecil.”

Penting untuk mendapatkan bilangan yang benar, kata John Monnier, asisten profesor di Jurusan Astronomi U-M.

“Dalam beberapa kasus, kami menemukan perbedaan 5 ribu derajat Fahrenheit antara apa yang diramalkan teori dan apa yang benar ditunjukkan alat ukur,” kata Monnier. “Itu berpengaruh besar pada kecemerlangan total. Bila kita tidak mempertimbangkan hal ini, kita akan salah dalam menilai massa, usia dan energi total bintang.”

Monnier memimpin pembuatan instrumen Penggabung Infra Merah Michigan (MIRC) yang digunakan untuk mengambil pengukuran yang membawa pada penemuan ini. MIRC menggunakan interferometri untuk menggabungkan cahaya yang memasuki empat teleskop di array CHARA di Universitas Georgia State sehingga telihat datang dari sebuah alat yang 100 kali lebih besar dari Teleskop Antariksa Hubble. Teknik ini memungkinkan para astronom melihat bentuk dan karakteristik permukaan bintang. Sebelumnya, bintang hanyalah semata titik cahaya bahkan dengan teleskop terbesar sekalipun.

Dalam kasus ini, zooming in pada Regulus memungkinkan para peneliti mengukur suhu di kutub dan khatulistiwanya secara terpisah.

“Normalnya, anda hanya mampu mendapatkan suhu rata-rata saja,” kata Monnier.

Jadi dimana salahnya von Zeipel? Monnier percaya kalau pendahulu Swedianya tidak mempertimbangkan sirkulasi di bintang yang tidak berbeda dengan pola angin di Bumi.

“Bumi memiliki khatulistiwa yang panas dan kutub yang dingin sehingga menyebabkan sirkulasi udara,” kata Monnier. “Udara panas ingin mengalir ke kutub dan menyeimbangkan, membawa suhu menjadi merata. Inilah sumber sebagian pola cuaca di Bumi.”

Array CHARA didanai oleh Yayasan Sains Nasional dan Universitas Georgia State. Pendanaan untuk penggabung MIRC datang dari Universitas Michigan dan pengamatan didukung oleh Yayasan Sains Nasional dan NASA.

Sumber berita:

University of Michigan.

Referensi jurnal:

X. Che, J. D. Monnier, M. Zhao, E. Pedretti, N. Thureau, A. Mérand, T. Ten Brummelaar, H. Mcalister, S. T. Ridgway, N. Turner, J. Sturmann and L. Sturmann. Colder and Hotter: Interferometric imaging of ? Cassiopeiae and ? Leonis. The Astrophysical Journal, Volume 732 Number 2 DOI: 10.1088/0004-637X/732/2/68

faktaimiah.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 29, 2011 in PhysicsNow

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: